Senin, 14 April 2014

NASKAH SADURAN



RANJANG PENGANTIN
Oleh    : ekka nur islahiyah
Di sadur dari cerpen karya Kahlil Gibran

ANALISIS STRUKTURALISME
A.      Tema : Jiwa-Jiwa Pemberontak
B.       physical description
Ø  Laila : Tokoh Sentral Protagonis Antagonis. Dinamakan protagonis karena ia di awal cerita seorang yang cantik dan lemah yang tak kuasa menolak permintaan paksa orang tuanya untuk menikah dengan pria agak tua yang tidak ia cintai. Dan dinamakan antagonis karena di akhir cerita ia menjadi seorang wanita pemarah dan egois yang menghujamkan pisau pada lelaki yang ia cintai karna ia menganggap ada wanita lain yang merebut kekasihnya dan tak seorang pun boleh memilikinya.
Ø  Salim : Tokoh Andalan. Dia adalah seorang pemuda tampan dan sederhana Itu ditunjukkan dalam cerita saat para tamu sedang menikmati pesta dan mabuk-mabukan, hanya salim saja yang tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh para tamu.
Ø  Susan : Tokoh Tambahan. Susan adalah sahabat baik laila yang menyampaikan pesan kepada salim dan hanya susanlah yang mau menguburkan mayat mereka berdua.
Ø  Najeebah : tokoh antagonis, dalam cerita tersebut ia sebagai dalang dari munculnya masalah karena fitnah yang di sebarkannya.
Ø  Suami Laila, Pendeta dan Tamu : Tokoh Lataran karena peran mereka hanya berfungsi sebagai latar cerita saja.

C. Latar ( Setting ) :
·     Latar Tempat : dalam cerita ini hanya terdapat dua tempat saja yaitu kediaman/rumah pengantin pria dan di taman di bawah pohon.
·     Latar Sosial : yang termasuk latar sosial dalam cerita ini yaitu adat atau tradisi mereka (orang libanon) para orang tua selalu menjodohkan paksa anak perempuannya dengan pria tua yang kaya raya dan saat pernikahan mereka berpersta pora dengan adanya penari-penari dan bermabukan dengan minum arak, disamping itu mereka tidak sungkan bermesraan dalam pesta.

D. Sudut Pandang : menggunakan sudut pandang orang ketiga.



Usai sudah resepsi pernikahan antara Laila dengan seorang lelaki yang tidak di cintainya. Sepasang suami istri dan rombongan itu telah pergi meninggalkan geraja dan menuju rumah suaminya untuk berpesta. Setelah sampai, mereka duduk di pelaminan dan para tamu berbahagia menikmati jamuan pesta tersenut. Tapi Laila tetap menyembunyikan kesedihannya. Sementara sang suami juga ikut bersenang-senang sendiri dengan teman-temannya.

Laila      : (laila bergumam dalam hati). Oh tuhan..! rasanya aku tidak tahan lagi menahan sembilu ini. Terlalu menyakitkan jika aku menahannya. Orang tua seakan tidak peduli dengan hati anaknya, sehingga tega memaksaku untuk bersanding dengan orang yang benar-benar tidak aku cintai. (diam… tetap melamum). Salim..!, aku ingin betemu dengan salim. (lamunannya berbelok kepada sosok salim, kekasihnya dahulu). kabar terakhir yang aku dengar ia telah kembali dari perantauannya.

Tepat di depan Laila duduk di atas pelaminannya terlihat susan yang sejak tadi menatapnya. Muncullah ide dalam benak Laila untuk mengutus Susan agar menyampaikan pesannya kepada Salim.

Laila      : Susan, mendekatlah aku ingin bicara padamu..! (panggilnya dengan berbisik-bisik)
Susan     : adakah yang bisa aku bantu kawanku?, (susan segera mendekat)
Laila      : ku mohon kepadamu, sahabatku, malam ini demi kasih yang telah mengikat jiwa kita sejak masih kecil. Aku mohon kepadamu demi kebahagiaan di hatiku dan demi penderitaanku. Pergilah, temuilah salim dan suruhlah dia pergi keluar dengan diam-diam menuju taman dan mintalah dia untuk menungguku disana. Bujuklah dia demi aku Susan. Sampai dia mau, katakana padanya hatiku hancur dan buta, aku hamper mati dan aku ingin membuka hati kepadanya sebelum baying-bayang melenyapkanku. Cepatlah temui dia dan bujukulah. Engkau tidak perlu takut manusia-manusia di sekitarmu ini tidak akan menangkapmu sebab anggur telah mengunci telinga mereka dan membutakan matanya.

Susan     : baiklah sahabatku, akan ku sampaikan pesanmu kepada salim..!

Maka bangkitlah Susan menuju kediaman Salim. Dalam gubuk kecilnya terlihat Salim sedang duduk melamun di atas kursinya, dengan menatap keluar cendelanya yang terbuka lebar. Susan segera masuk kedalam.

Susan     : permisi mas Salim..!
Kedatangan Susan sempat menggugah lamuanan Salim. Tapi Salim tetap berdiam diri tanpa menyahuti apapun. Hanya mendengarkan pesan yang di bawa Susan saja.

Susan     : saya datang kesisini hanya ingin menyampaikan pesan dari sahabatku, Laila…!

Susan mulai membisikan pesan dari sahabatnya itu, dengan teliti pemuda itu mendengarkannya. Setelah susan selesai berbicara Salim hanya memandangi Susan dan berkata

Salim     : aku akan menunggu dia, pengantin wanita itu ditaman.

Beberapa saat kemudian pengantin wanita bangkit dan berdiri dan berjalan muju taman tersebut. sambil melihat sekeliling dengan sembunyi-sembunyi. Sedangkan para tamu dan pengantin laki-laki itu masih terbius oleh anggur dan para wanitanya.
Sesampainya Laila di taman itu dilihatnya Salim yang sudah menunggunya. Kemudian langsung direbahkannya tubuh Laila ke tubuh Salim. Merangkul dan menatapnya. Berkata dengan tergesah-gesah.

Liala      : (dengan menangis dan rasa haru Laila berkata) dengarkan kekasihku!, dengarkan baik-baik. Aku menyesali ketidak pedulianku dan sikapku yang terburu-buru, aku menyesal Salim. Sampai penyesalanku  menyiksa hatiku. Aku mencintaimu sampai akhir hidupku. Orang telah mengatakan padaku bahwa enkau telah melupakanku, bahwa engkau telah pergi menjauh dariku. Engkau telah jatuh cinta dengan wanita lain mereka menceritakan itu semuanya padaku Salim. Dan kata-kata mereka meracuni hatiku. Kuku-kuku mereka telah merobek hatiku dengan kebohongan-kebohongan. Najeebah mengatakannya padaku bahwa engkau telah melupakanku dan merasa jijik padaku. Bahwa engkau telah mencintai Najeebah dengan menggairah. Wanita jahat itu telah memperdaya perasaanku sehingga aku mau mengambil saudaranya untuk jadi suamiku, Salim. Tetapi engkaulah suamiku dan bukan yang lain!.
Saat ini kerudung telah dibuka dari mataku dan aku telah datang kepadamu. Telah ku tinggalkan rumah ini dan aku tidak akan kembali lagi. Telah kutinggalkan kedua orangtuaku, kutinggalkan suami yang secara keliru telah kupilih menjadi majikanku. Dan kutinggalkan hokum yang menjunjungku.
Mari kita bergegas salim!, dan tinggalkan tempat ini di bawah lindungan malam. Lihatlah perjiasan-perhiasan ini. Ini semua akan menjamin masa depan kita. Ayo kita pergi salim. Mengapa kau membisu Salim?, mengapa kau tak menatapku?, mengapa kau tak menciumku?, telah ku tinggalkan semua dan aku datang dalam gaun pengantin untuk melarikan diri bersamamu. Ku mohon katakana sesuatu Salim!..

Sunyi merayap beberapa waktu, kemudian sang pemuda itu berkata

Salim     : kembalilah ke suamimu, Masalah kita sudah berakhir. Kembalilah ke pesta perkawinanmu sebelum mata-mata tajam melihatmu, dan orang-orang mulai berkata “wanita itu telah berhianat pada malam pernikahannya, persis saat dia menghianati kekasihnya ketika kekasihnya akan pergi jauh. (perkataanya dalam pandangan kosong, lemas, dan penuh kecewa)

Mendengar kata-kata itu pengantin wanita yang sedari tadi duduk disampingnya  mulai gemetar seraya berkata

Laila      : aku tidak akan kembali kerumah itu, sampai terahir napas hidupku. Jangan tinggalkan aku dan jangan katakan bahwa aku tidak setia, sebab tangan cinta yang mengikat jiwaku lebih kuat dari tangan pendeta yang menyerahkan jiwaku pada suamiku, jiwaku telah datang mendekati jiwamu dan bahkan kematian tak akan mampu memisahkan jiwa kita.

Salim     : (pemuda ini langsung berdiri seraya membalasnya dengan nada kebencian). Tinggalkan aku hai perempuan!. Aku telah melupakanmu dan aku merasa jijik padamu. Cintaku sudah ku tambatkan pada wanita lain, dan yang dikatakan banyak orang tentangku itu benar adanya. Apa kau dengara apa yang aku katakana?. Aku telah melupakanmu, dan aku tak ingat lagi padamu sama persis dengan jiwaku yang lenyap dari pandanganmu. Kembalilah pada suamimu dan jadilah istri yang baik baginya!.

Mendengarkan hal itu hati Laila mulai murka. Dengan beranjak dari tempat duduknya Kemudian ia menjawab

Laila      : tidak!, aku tidak percaya apa yang baru saja kau katakan!. Kau mencintaiku, bisa ku baca kata-kata cinta dalam sorot matamu, kita saling mencintai salim. Dan tak akan ku tinggalkan tempat ini kecuali tetap berada di sisimu. Aku datang kemari untuk mengikutimu sampai ke ujung bumi. Jadi renggutlah aku dan tumpahkan darahku.

 Kemarahan antara mereka berdua makin menjadi-jadi. Salim juga sangat marah.

Salim     : tinggalkan aku hai perempuan!. Atau aku akan berteriak dan memanggil semua orang agar datang ketaman ini. Akan ku tunjukan aibmu dan iniakan membuatmu bagai butiran-butiran pahit yang ada di mulut mereka.

Wajah manita itu berubah. Matanya terbelalalak bagai lautan yang di goncang badai.

Laila      : siapa yang akan mencitaiumu seperti diriku?, hati siapa kalu bukan hatiku?. (berucapnya dengan nada kasar dan penuh kecewa)

Hati Laila sudah terbakar amarah. Hatinya di penuhi setan. Tanpa piker panjang ia langsung mengambil sebuah pisau dari balik gaunnya, dan secepat kilat langsung di hujamkan pisau itu secepatnya tepat di atas dada pemuda itu. Dia roboh ke tanah. Melihat itu Laila sangat kaget wanita itu membungkuk di hadapannya dan pisu itu masih ada dalam genggam tangannya.

Salim     : kemarilah kekasihku, kemarilah Laila!, dan jangan tinggalkan aku antara kehidupan dari pada kematian. Tettapi kematian lebih lemah dari pada cinta. Tutuplah mataku yang mulai meredup ini dengan jari-jarimu yang penuh darah. Ketika jiwaku melayang ke angkasa, taruhlah pisau itu ditangan kananku dan katakana pada mereka bahwa aku telah bunuh diri karena putus asa dan cemburu. Aku hanya mencintaimu Laila bukan yang lain.

Tubuh pemuda itu tersungkur dan tangannya memegangi dadanya yang terluka. Dan lepaslah jiwanya. Pengantin wanita itu menatap dengan tangis terisak-isak. Karena kecewa akhirnya ia berteriak-teriak seperti orang gila.

Laila      : kemarilah oh manusia!. Pernikahannya ada disii dan inilah pengantin priannya. Kemarilah sehingga kami dapat menunjukan kepadamu ranjang pengantin yang lembut ini. Bangunlah dan sadarlah orang-orang pemabuk!.

Jeritan sang pengantin itu menggema di setiap sudut taman dekat rumahnya. Semua orang terkejut saat mendengar perkataannya. Maka cepatlah mereka menghampirinya. Setelah meliahat apa yang ada bibir mereka taka da yang mampu tuk berucap. Tapi mereka mundur karena takut. San pengantin menoleh kea rah mereka, kesedihan tampak di wajahnya.

Laila      : memdekatlah hai pengecut!. (dia berteriak) kalian tidak perlu takut dengan hantu kematian, karena kematian ini mulia dan tak akan menghampiri kepicikanmu. Lihatlah pemuda tampan ini. Dialah kekasihku, aku membunuhnya karena dia kekasihku. Dimanakah wanita jahat dan pencemburu itu, wanita yang menfitnah kekasihku?, dia mengatakan bahwa Salim mencintainya dan telah melupakanku. Dimanakah Najeebah, wanita penipu itu?, dimanakah ular kecil berbisa itu?, biarkan dia menyaksikan semua ini. Kalian tidak bisa memahami apa yang aku katakana. Karena kalian hanyalah orang-orang tolol yang tak mengerti arti cinta yang sesungguhnya.

Wanita itu masih menangis. Kemudian wanita itu mengangkat pisu ke atas dan di hujamkannya pisau itu keras-keras tepat di dadanya. Semua mata terpaku oleh itu, dengan sekarat wanita itu mengatakan.

Laila      : janganlah mendekat, kalian hanya akan menghinaku. Jangan pisahkan tubuh kami biarkan bumi menyembunyikan kami dan melindungi kami dari hantaman salju musim dingin sampai musim semi datang.

Dengan sekarat, tangan manisnya mencoba untuk meraih tangan pemuda itu.

Laila      : lihatlah kekasihku!, lihatlah suami jiwaku. Mereka yang iri hati berdiri terpaku di sekitar ranjang kita. Engkau telah menantikanku begitu lama Salim. Sekarang lihatlah bagaimana belenggu-belenggu itu telah hancur. Mari kita pergi bersama Salim!. (laila mengatakannya dengan berbisik di dekat Salim)

Kemudian datanglah seorang pendeta yang memberkati pernikahan Laila yang gagal. Lantas berkata

Pendeta : terkutuklah tangan yang menyentuh kedua tubuh ini. Yang terbunuh oleh darah kejahatan dan aib. Oh manusia, pulanglah dan menyingkrlah dari bau busuk yang muncul dari dua hati ini.

Kemudian Suana seorang gadis sahabat Laila datang dan berdiri di samping pendeta itu. Sambil menangis dia berkata.

Susan     : aku akan tetap tinggal disini penghujat buta. Aku akan menjaga mereka sampai pagi. Akan ku gali sebuah liang kubur dibawah cabang-cabang pohon. Jika kalian tidak memmeberiku sekup, akan aku gali tanah ini dengan jari-jariku sendiri. Dan jika kau mengikat kedua tanganku akan ku gali tanah ini dengan gigiku. Cepat tinggalkan tempat ini!.

Setelah lama menyaksikan itu akhirnya orang-orang pergi berhamburan di hadapan suara sang pendeta. Gadis itu tetap berdiri di tempat itu.
Katika kerumunan orang telah menghilang dan tempat itu menjadi sunyi, dia pasrah dalam tangis dan kesedihan!.

SINOPSIS


Bunga Malam
Hidup pada zaman sekarang semakin membingungkan dan menyesatkan. Yang kaya makin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Para kaum borjois makin bangga dan nyaman akan kedudukannya. Di luar sana orang-orang hedonis makin giat untuk saling berebut kesenangan duniawainya. Hanya ke egoisan yang muncul di benak mereka. Pertumbuhan ekonomi yang memuncak semakin menghimpit hidup Lastri. Lastri adalah seorang gadis berumur 18 tahun. Ia mempunyai seorang adik laki-laki bernama Andi  yang baru duduk di bangku kelas 5 SD. Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai penjual nasi di pinggir jalan. Bapaknya dahulu bekerja di sebuah pabrik kayu.
Kahidupan lastri semakin suram saat bapaknya di pecat dari pekerjaannya. Bapak kecewa, dan mulai saat itu beliau melepaskan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Beliau tak mau lagi menafkahi keluarganya, yang ada hanya merampas uang hasil pekerjaan ibu yang setiap malam digunakan untuk mabuk-mabukan dan main judi. Sebenarnya lastri sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan bapaknya. Rasanya lastri ingin pergi jauh meninggalkan keluarganya tapi, lastri tidak tega kalau harus melihat ibunya berjuang sendirian.
Makin hari lastri semakin terhimpit oleh keadaan. Sang bapak  selalu mengancam akan menceraikan ibunya dan akan mengeluarkan Andi dari sekolah. akhirnya, dengan terpaksa Lastri harus menuruti keinginan bapaknya. Setiap malam Lastri harus membantu Bapaknya untuk menjadi pengedar narkoba. Semenjak saat itu setiap  pagi dan malam hari Lastri harus melakoni dua peran yang berbeda.
Tanpa kesengajaan, suatu hari Lastri bertemu dengan pemuda yang bernama Hari yang bekerja sebagai seorang polisi. Sebuah rasa, tanggung jawab, profesi, akan menyatu dalam kisah ini.      

Rabu, 26 Maret 2014

TEKS NASKAH DRAMA



 
TITIK KEADILAN

Pagi hari Arif selalu terburu-buru untuk berangkat sekolah. Karena, kalau sampai terlambat ia harus berhadapan dengan pak Karjo. Beliau adalah guru BK yang terkenal galak di SMA. Sebenarnya, pukul 06.30 Arif harus segera sampai sekolah tapi, pagi itu Arif terhalang oleh perintah ibunya.
Ibu                   : Arif…  bantuin ibu ya..! (teriak ibu dari ruang tamu)
Arif                 : iya bu kenapa? (arif menyahut dari dalam kamar)
Ibu                     : ini.. sambil berangkat sekolah tolong titipkan gorengan ibu ke tokonya bu zaenab ya, kamu tau kan tokonya?
Arif                   : oh, iya bu. Ya sudah, Arif berangkat sekarang saja biar nanti tidak telat sampai sekolah
Ibu                   : iya, hati-hati dijalan
Arif                 : assalamualaikum..!!
Ibu                   : waalaikumsalam…!!
Setelah pamit kepada ibu, segera Arif naik motor bututnya dan beranbgkat. Tapi ditengah perjalanan motor butut Arif tiba-tiba berhenti
Arif                   : lho, kenapa ini motor.. wuh, ternyata bensinnya habis…! Aduh bisa telat aku kalau seperti ini
Sambil menuntun motornya Arif terus mencari-cari POM bensin. Setelah sebentar berjalan akhirnya ia menemukan POM bensin
Arif                 : pak ngisi bensin 10.000
Petugas POM hanya diam dan lama-lama di lihat ada yang aneh dengan cara pengisian bensinnya.
Arif                   : lho pak, kalau ngisinya jangan di sendat-sendat dong pak!, nanti pengisiannya gak cocok sama harganya. (sanggah arif dengan sopan)
Petugas            : ya pokoknya kan terisi dek..! (jawabnya dengan santai)
Arif                             : hemmmm… ternyata petugas POM bensin juga bisa korupsi ya..! (gumam arif dalam hati)
Setelah selesai mengisi bensin secepat mungkin Arif haru sampai ke tempat bu Zaenab dan segera berangkat ke sekolah. Dan terlambat sudah, sesampainya di depan sekolah sudah terlihat pak Karjo dari balik gerbang yang berdiri dengan gagahnya untuk menunggu siswa yang telat.
Pak Karjo        : hey Arif cepat kesini kamu!.., (pak karjo berteriak dengan lantang) akhirnya kali ini kamu bisa telat juga ya?, kenapa kamu bisa telat?, dasar pemalas!..
Arif                 : maaf pak saya bukannya malas tapi, tadi dijalan say kehabisan bensin pak
Pak karjo         : huwalah..! alasan saja kamu ini (bantah pak karjo)
Arif                             : ternyata menyeramkan juga kalau harus melihat kumis tebalnya pak Karjo.. hehe (arif tertawa geli sambil bergumam dalam hati)
Setelah lama berdiri mendengarkan ocehan pak Karjo tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depan gerbang, dan ternyata masih ada yang lebih terlambat dari pada Arif.
Nina                            : selamat pagi pak Karjo!... ( gadis itu menyapa pak Karjo dengan senyum manisnya hingga membuatku geli)
Pak Karjo        : selamat pagi nona Nina… silahkan langsung masuk ke kelas saja nona nina. Tapi, besok-besok jangan sampai telat lagi ya!..
Ninna              : siip pak!..
Semua itu terjadi begitu cepat. Membuat Arif semakin tidak paham dan bengong saja
Arif                             : lho.. apa apaan pak Karjo ini?, enak bener jadi nina membuatku iri saja (lagi-lagi arif hanya bergumam dalam hati)
Pak Karjo        : lihat apa kamu kok sampai melotot kayak begitu?
Arif                 : tidak pak!..  enak ya jadi Nina mudah banget lolos dari hukuman
Pak Karjo        : ya iyalah.. dia kan anaknya pak kepala sekolah pimpinan dari sekolah ini, dan yang punya sekolah ini. Jadi gak enak kalau harus di hokum (pak Karjo menjelaskannya dengan mondar-mandir di depan Arif)
Arif                 : ooh.. begitu ya pak.. aneh ya!..
Pak Karjo        : sudah..sudah.. gak usah ngurusi orang lain, urusi dirimu sendiri. Sebagai hukumannya karena  telat kamu tidak boleh masuk kelas. Balek pulang sana kamu!..
Arif                 : lho pak.. kok gitu pak?
Pak Karjo        : ya biar kamu tidak mengulangi telat lagi
Arif                 : ya sudah pak saya pulang dulu
Pak Karjo        : iya pulang sana
Hari itu Arif tidak sekolah, mungkin ia juga bosan jika harus pulang kerumah. Kemudian ia teringat dengan warung kopi bu Zaenab. Seperti biasa Arif suka saat nongkrong disana karena tempatnya yang nyaman dan enak untuk dibuuat berdiskusi. Tak lama kemudian Arif sampai di warung bu Zaenab.
Arif                 : assalamualaikum!....
Terlihat bu Zaenab sedang ribut meracik kopi istimewanya
Bu zaenab       : waalaikumsalam!..., lho arif.. tumben jam segini sudah kesini?, jualan ibumu yang tadi pagii belom laku semua, apa kamu mau mengabiil uangnya sekarang?
Arif                             : ah tidak bu, saya memang sengaja mampir kesini. Tadi saya telat datang ke sekolah jadi saya tidak boleh mengikuti  sekolah hari ini.
Bu Zaenab       : ooh.. ya sudah mampir di sini saja, mau makan rif?
Arif                 : tidak bu, saya pesan secangkir kopi hitam saja
Di warung itu arif duduk sendirian sambil menunggu kopi pesanannya. Tak lama kemudian datanglah pak Ali, beliau adalah suami dari bu Zaenab dan cukup akrab juga dengan Arif. Tapi saat itu pak Ali datang dengan wajah kusut.
Pak Ali            : assalamualaikum!...
Bu Zaenab      : waalaikummsalam!... ada apa pak, kok wajahnya ditekuk seperti itu? (Tanya bu Zaenab dengan penasaran)
Pak Ali            : (pak Ali duduk bersandar pada salah satu kursi dekat bu zaenab) haaaah,,,, hari ini bapak cukup kesal dengan orang-orang yang ada di balai desa itu. Bapak ini sudah dari 3 hari yang lalu menunggu info soal kedatangan pupuk yang di subsidi oleh pemerintah tapi kok tetap saja infonya itu lambat. Katanya setiap orang tidak boleh membeli pupuk lebih dari satu, tapi nyatanya pak Heru tetangga kita itu membeli sampai 3 karung, katanya untuk persediaan. Hah… makin gila saja orang-orang itu, katanya pupuk baru datang besok subuh buk, dan bapak ini takut kalau tidak kebagian akhirnya bapak coba nitip satu saja malah katanya tidak boleh, tapi kalau kita beli besok bisa-bisa kita tidak kebagian. Cepat sekali pupuk-pupuk itu menghilang, bapak sampai heran!... (pa ali bercerita dengan jengkel, sampai terbawa emosi).
Bu zaenab       : ya sudah pak, sabarlah dahulu mungkin keadilan belum berpihak pada kaum seperti kita. Ya sudah jangan terpancing emosi pak, ndak baik. Apa bapak ndak malu juga marah-marah terdengar oleh Arif. (bu zaenab sambil mengantarkan kopi pesanan arif)
Pak Ali            : lho iya,, mana nak arif?
Sedari tadi arif hanya diam dan ikut mendengarkan cerita bapak sampai membuat arif melamun memikirkan cerita itu
Arif                 : oh iya pak, arif disini
Pak Ali            : aduuh… maaf ya rif bapak sampai tidak menyapa kamu, ya sudah nikmati saja kopinya, bapak mau istirahat dulu didalam
Arif                 : iya pak ndak apa-apa…
Pikiran Arif tetap terpacu pada cerita pak Ali tadi. Arif cukup heran dengan sistim yang terjadi di desanya itu.
Arif                             :  Kalau sudah seperti ini kira-kira siapa yang salah dan patut dipersalahkan?. (arif ngomong sendiri dengan nada pelan)
Tak lama kemudian datanglah sekelompok mahasiswa yang datang ke warung bu Zaenab. Tidak heran lagi, memang sering ada mahasisiwa yang mampir kesini untuk sekedar mengisi waktu luang untuk berdiskusi dan menikmati secangkir kopi istimewa bu Zaenab.
Mahasiswa 1   : bu… pesan kopi 4 ya, seperti biasa
Bu zaenab       : iya tunggu sebentar ya dek…
4 orang mahasiswa itu duduk di sebuah meja bundar yang berisikan 4 kursi yang tidak jauh dari tempat arif duduk. Kalau sudah begini arif senang karena bisa mendengarkan diskusi mahasiswa yang kritis itu, lumayan buat nambah pengalaman.
Mahasiswa 2   : hah, aku semakin bosan jika harus mendengar soal KTM lagi, Cuma infonya saja yang berhembus tapi buktinya tidak ada, Cuma kabar angina saja. (cerita mereka di mulai)
mahasiswa 3    : iya, kenapa sampai lama sekali ya?, padahal kita ini sudah pertengahan semester 2 tapi tetap saja fakultas kita belum selesai, padahal fakultas lain sudah ada yang mendapatkan. Kenapa yak ok bisa sampai tidak bersamaan seperti itu?
mahasiswa 4    : kemarin aku juga ingin daftar beasiswa tapi sempat terhalang gara-gara KTM belum ada, memang aneh sekali
Arif yang mendengar percakapan itu hanya diam sambil memikirkannya.
Mahasiswa 1   : memang Indonesia ini semakin lelet saja
Datang bu Zaenab mengantarkan kopi pesanan mereka
Bu Zaenab       : aduuuh… mahasiswa ini sangat kritis sekali ya,
Mahasiswa 2   : harus itu bu, mahasiswa itu harus mampu kritis dengan apa yang terjadi agar tidak ketinggalan bu.
Bu Zaenab       : ya sudah, teruskan saja ngobrolnya
Bu zaenab berjalan ke dalam melewati arif
Bu Zaenab       : arif, ibu kedalam dulu ya, kalau ada pembeli tolong panggil ibu ke dalam
Arif                 : ok bu, tenang saja
Kembali arif mendengarkan pembicaraan ke empat mahasiswa tersebut
Mahasiswa 3   : oh ya, kemarin aku mau pinjem buku di perputakaan tapi gak bisa
Mahasiswa 4   : haha… mungkin kamu yang banyak ngutang di sana, (sahutnya sambil mengledek)
Mahsasiswa 3  : hehe, iya ya mungkin saja tanggunganku sudah banya di sana
Mahasiswa 1   : sebentar, tapi bagaimana dengan dosen-dosen yang pinjem bukunya sampai lama sekali, apakah kebijakannya sama dengan kita ya?
Mahasiswa 2   : terus kita mau bertanya pada siapa?, kebenaran tidak akan sama bro..!
Tak lama kemudian, datang lagi seorang buruh supir truk yang bernama parjo ia bekerja sebagai pengantar barang di sebuah pabrik terdekat, tapi datang dengan lemasnya. Segera arif memanggil bu Zaenab
Arif                 : bu  ada pelanggan datang bu!...
Bu Zaenab      : iya,,,, siapa rif? (bu zaenabkeluar dari dalam rumahnya). Oooh.. mas parjo, silahkan mas pesan apa?
Parjo                : kopi hitam saja mbak
Kemudian pak Ali juga keluar dari rumahnya. Memang pak parjo ini juga sudah akrab dengan keluarga pak Ali
Pak Ali                        : lhoo… mas parjo kenapa mas kok kusut begitu mukanya? (pa kali menemani pak parjo untuk ngobrol)
Parjo                            : iya li… mukaku ini sudah kusut, malah ditambah kusut dengan masalah kerjaku ini (katanya sambil emosi)
Pak Ali            : kenapa mas dengan kerjanya?, bukankah selama ini lancer-lancar saja?
Parjo                            : gimana mau lancar kalau gajinya di kurangi terus!... rasanya lama-lama kerjaku ini tak sebanding dengan gajinya. Buruh-buruh yang lain juga mengeluh dengan masalah seperti ini. Apalagi sekarang jatah subsidi transportasi kami juga di kurangi, hah semakin membuatku tidak paham saja
Pak Ali            : iya mas, tampaknya sekarang kita sedang mmengalami masalah yang lumayan komplek, aku juga masih bingung mengurusi sawahku ini.
Sejenak suasana tampak hening, orang-orang yang ada di warung kopi itu sedang menikmati kebingungannya masing-masing. Sedikit arif menyahut.
Arif                             : pada intinya pak, kita ini sekarang sedang di bingungkan oleh yang namanya keadilan.  kita juga tidak tahu siapa salah dan siapa yang dipersalahkan. Kita rakyat pinggiran rasanya terlalu jauh untuk bersuara di depan pembesar kita. Lebih baik kita benahi saja diri kita masing-masing agar lebih baik karena, memang sulit untuk menemukan titik keadilan pada zaman sekarang ini.



Senin, 17 Februari 2014

Teruntuk Kamu

oleh: ekka nur islahiyah

sempat mengundang resah
sempat mengusik gelisah
kita beranjak dari ketidak pastian
hingga kini seribu tanya
tetap menjadi sembilu
dalam celah sarafku
        kadang membuai
        kadang menyesak
        hingga saat ini aku masih meragu
        akan spekulasi yang tak berujung
        aku terlalu sesak dengan beribu tanya
        yang ingin ku hujatkan padamu
seakan kau memanggilku,
aku sahuti, kau tak mendengar
seakan kau berjalan kearahku,
aku menyambut, kau membelok
seakan kau rindu,
aku merindu, kau campakan
seakan kau memberi harapan,
aku berharap, kau menghempaskannya
seakan kau mengikatku,
aku diam, kau tinggalkan
apakah aku yang mengubah suasana makin sempit?
atau kamu yg terperijit dalam pilihan yg sulit?
       rasanya ingin muntah
       jika menelan semua itu sendiri
       ingin ku buang
       tapi tak sanggup
terlalu banyak alasan untuk mampu melenyapkanmu
karena aku ingin kau lenyap bersamaku... nanti
hanya bersamamu
semua menjadi lebih dekat
dan membuat jiwaku
semakin utuh...
tapi kau tak mampu meyakinkan itu

KA. Logawa, 16 februari 2014